Selasa, 14 Maret 2017

Review Grave of the Fireflies (1988)



Grave of the Fireflies (1988)

Nama lain : Hotaru No Haka
Sutradara : Isao Takahata
Produser : Toru Hara
Based on : Grave of the Fireflies dari Akiyuki Nosaka
Cast : Tsutomu Tatsumi, Ayano Shiraisi, Yoshiko Sinohara, Akemi Yamaguchi
Musik : Michio Mamiya
Sinematografi : Nobuo Koyama
Diproduksi : Studio Ghibli
Durasi : 89 menit
Rate by me : 8,8 dari 10


Film ini bercerita tentang betapa perang begitu melegalkan rasa takut secara harfiah baik dimulai dari sistim kemasyarakatan tertinggi sampai sistim kemasyarakatan terendah yang ujung-ujungnya merambat ke tingkat individu. Perang membawa beban psikisyang tak berkesudahan meski dalam satu kondisi tertentu alih-alih dapat membentuk karakter yang thought, seperti halnya yang dialamatkan pada peran Seita (anak lelaki seorang angkatan laut yang bertugas selama Perang Dunia ke II dan mau tidak mau harus dipasrahi adik perempuannya Setsuko sepeninggal ibunya yang menjadi korban perang). Meski dalam usia yang relatif belia, toh nyatanya Seita mampu digambarkan sebagai pribadi yang survive dan berpikir cepat meski dalam kondisi tersulit sekalipun.

Dimulai dengan adegan Seita yang tergolek lunglai di atas lantai Stasiun Sannomiya pada tanggal 21 September 1945 dengan pandangan sayu yang nyaris kosong. Dalam benaknya, rupanya sudah tidak ada lagi sesuatu yang patut ia perjuangkan sehingga ia pun sudah teramat siap jika ajal datang menjemput. Tak berapa lama kemudian, ia pun betul-betul menghembuskan napasnya yang terakhir, tepat diantara belasan tubuh gelandangan yang mengalami nasib serupa dengan dirinya. Seorang petugas kebersihan kemudian mengevakuasi jasadnya yang telah dikerubungi lalat sembari memeriksa kalau-kalau ada barang yang tertinggal. Ternyata petugas tersebut menemukan kaleng permen buah yang sebenarnya berisi sesuatu yang sangat penting pada masa hidup Seita yakni abu jenazah adiknya Setsuko yang meninggal karena malnutrisi. Karena dianggapnya tidak berharga, kaleng tersebut dilempar begitu saja oleh si petugas kebersihan hingga isi di dalamnya berserakan. Dari situlah kemudian muncul kunang-kunang yang menjelma arwah Setsuko yang ingin berjumpa kembali dengan kakaknya.


Sejatinya, untuk ukuran durasi awal, film ini sudah cukup mengoyak-ngoyak hati penonton karena ternyata arwah kefuanya dapat bertemu kembali setelah selama ini bertahan dalam kesengsaraan. Mereka kemudian flashback menengok hari-hari 'gelap' yang terjadi sebelumnya untuk mengetahui lebih rinci apa yang terjadi sebenarnya. Dengan setting kereta malam, kakak beradik itupun menemukan potongan-potongan cerita yang begitu menyedihkan sebagaimana yang dialami oleh anak-anak korban perang.

Alur kemudian mundur dengan latar belakang Kota Kobe yang berstatus darurat militer karena serangan udara AS yang datang setiap saat. Keadaan kota menjadi lumpuh sebagai akibat dari hujan rudal yang mengakibatkan rumah penduduk habis dilalap api serta tak sedikit pula yang harus mengalami kematian ataupun luka-luka. Termasuk juga di dalamnya ibu Seita dan Satsuko yang sebenarnya menderita lemah jantung dan terpisah saat akan berlindung di penampungan yang dialokasikan ke gedung sekolah. Setelah serangan udara mereda untuk beberapa saat, Seita dan Satsuko pun menyusul ke gedung sekolah untuk dikenai perawatan serta dijatah biskuit ransum untuk persediaan makan. Waktu itu pikiran mereka adalah sang ibu sudah lebih dulu menyelamatkan diri dan berada di tempat yang aman. Sampai akhirnya seorang Bibi memberitahukan kabar buruk bahwa ibu mereka terkena luka bakar yang cukup serius bahkan hampir di sekujur tubuh. Seita berusaha tenang dan masih berpikiran positif sembari menyembunyikannya dari sang adik. Namun demikian, hatinya jelas hancur karena nyawa sang ibu ternyata sudah tidak tertolong lagi sehingga harus dikremasi bersamaan dengan korban perang lainnya.


Dengan tetap menyembunyikan kenyataan yang ada, Seita membawa Setsuko ke rumah bibi mereka yang ada desa. Mulanya sang bibi bersikap welcome sebelum tahu bahwa ibu mereka telah wafat. Setelah tahu, bibi tersebut kemudian berubah 180 derajat dari sifatnya yang semula ramah. Ia mengintimidasi Seita dengan bahasa halus agar cepat-cepat menghubungi ayahnya supaya lekas menjemput, sampai benar-benar yang niat untuk berkata menyakitkan agar kakak beradik tersebut tidak hanya jadi benalu. Makan malam yang tadinya dilakukan bersama, kini sengaja disekat dengan perintah silakan memasak sendiri meski stok beras banyak dihasilkan dari barang-barang ibu Seita dan Setsuko yang ditukar tambah. Bibi tersebut juga dengan tega memberitahukan kematian ibu keduanya kepada Setsuko tanpa sepengetahuan Seita. Puncaknya, saat dikata-katai bagaikan hama alias parasit yang bisanya menumpang saja tanpa membantu bekerja, sementara putri dan suami bibi tersebut mati-matian banting tulang, harga diri Seita pun terluka. Ia lalu memilih pamit dan tidak akan merepotkan bibinya lagi, meski tidak tahu akan berteduh kemana.

Karena tidak ada pilihan, shelter perlindungan yang biasa digunakan saat ada serangan udara pun dijadikannya rumah. Seita dan Setsuko kemudian bersama-sama mengumpulkan alat-alat seadanya dari sisa rumah yang terbakar, juga membeli jerami dan beberapa peralatan masak untuk bertahan hidup. Awalnya semua berjalan manis, bahkan cenderung romantis memperlihatkan kegigihan seorang kakak yang selalu siap untuk adiknya dalam keadaan susah maupun senang. Mereka tidur dengan lampu dari sinar kunang-kunang yang menemani, juga memasak bahan makanan dengan penuh sukacita meski bisa dibilang sangat menyesakkan dada. Namun ada beberapa slot adegan sedih yang benar-benar mencabik-cabik perasaan. Yakni saat Setsuko mengubur kunang-kunang dan mengibaratkan itu kuburan ibunya padahal selama ini Seita mati-matian menyembunyikan hal itu, yang ternyata biang keroknya adalah mulut ember si bibi. Lalu saat Seita dengan terpaksa mencuri sayur sampai dipukuli hingga babak belur dan dibawa ke pos polisi meski akhirnya dilepaskan...setelahnya Setsuko yang tengah diare bahkan bisa sedewasa itu bilang :"Mana yang sakit? Mau kucarikan dokter?", Jujur bukan hanya Seita saja yang menangis...sayapun sebagai penonton tak kuasa membendung isak karena saking dalamnya kata-kata itu. Apalagi saat adegan Setsuko sudah benar-benar kritis kekurangan cairan, saat Seita pulang membawakan semangka, Setsuko didapatinya tengah mengemut kelereng yang ia anggap sebagai permen buah. Setelahnya ia menawari bulatan tanah yang ia bentuk layaknya nasi kepal karena seringnya sang kakak pergi berburu makan dalam waktu yang lama hingga Setsuko nyaris tak sadarkan diri karena kelaparan dan sebelum akhirnya meninggal. Di situ tangis saya benar-benar pecah terutama saat endingnya Setsuka dikremasi sendiri oleh Seita dengan perasaan yang sangat tegar.


Film ini mengajarkan banyak hal. Apa itu arti melindungi, menyayangi, mendewasakan diri, dan bertahan hidup. Damn, saya suka !


34 komentar:

  1. Nonton ini waktu di kosan malam-malam.. sedih sampai nangis T_T

    BalasHapus
  2. Film ini aku tonton bareng Amay juga. Nangiiiisss bareng-bareng. Meskipun ada yang bilang kalau film ini ngga cocok buat anak-anak, tapi terlanjur sih yaa.. Dan dari film ini Amay belajar tentang konsep kematian. Gimana perang itu menghancurkan ngga hanya tempat, tapi juga masa depan sebuah keluarga. Trus dia jadi tau juga kremasi itu apa. Bahwa ada orang yang meninggal ngga dikubur, tapi juga ada yang dibakar.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihihi, so sweet kalian (´⌣`ʃƪ)♡

      Ah iya juga sik, lebih ke film untuk direnungkan para orang tua ya

      Huum aku juga jadi samaan kayak amay, agak takjub juga pas Seita ngremasi adiknya sendiri, walo ga kliatan nangis tapi tegar banget sumpahhh #nyeseg

      Hapus
  3. Adegan makan tanah ituuuu.. Aaah nyesek banget film ini :( Bener2 ngaduk esmosi akuuu.. Eh jd pingin nonton film2 Ghibli lagii.. Waktu itu aku pernah maraton nontonnya mba Nit, di kosan sehari berapa film gitu.. :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mb dit kyaaaaa aku juga ga bosen bosen ngulang maratonan studio ghibli movie, sumpah keren keren banget...aku uda nonton spirited away, my neighbour totoro, whisper of the heart, the cat returns, only yesterday, when marnie was there...terus abis ini mau lanjut princes mononoke, arrierty, ma kiki's delivery services, the wind rises, dll
      #maapkeun aku yang terlalu antusias (`˘⌣˘)-c<´⌣`“)

      Hapus
  4. Aah..
    Jspang itu selalu kalau bikin film atau drama bisa menyayat hati.

    Tapi ini bener-bener mangajarkan tentang keburukan akibat perang.

    Sediih baca sinopsIsnya juga.
    Haturnuhun sudah nulis sinopsis yang kece banget.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setujuuuu hihihi, anime jepang digarapnya bener2 niat en pro
      ( ื▿ ืʃƪ)

      Masama teh lendy, mskasih uda mampir ke blog aku
      (ɔ ˘⌣˘)˘⌣˘ c)

      Hapus
  5. Ini film favorit saya. Dulu waktu SMA diplay sama guru di kelas untuk kami review. Pengen nonton lagi lah. Punya link downloadnya ga?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi sama
      (ɔ ˘⌣˘)˘⌣˘ c)

      Aku nonton di lk21 kak, di situ banyak film keceee

      Hapus
  6. Hhiikkksss.. Aku pernah nonton ini.. Sedih. Gak mau lagi,, SEDIH BANGEETTT. Kasian

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi iya kak bener2 bikin trenyuh aslik ni film
      (˘̩̩̩_˘̩ƪ)

      Hapus
  7. Mendewasakan diri cemana itu mbul ����
    Aku Kira ini siapa. Kok display namenya beda ��

    BalasHapus
    Balasan
    1. Mendewasakan diri siap dengan segala sikon terburuk kak ucig, termasuk perang...
      Hahaaa iyak ƪ(˘⌣˘)┐ ƪ(˘⌣˘)ʃ ┌(˘⌣˘)ʃ

      Hapus
  8. Sedih banget, ga berani nonton

    BalasHapus
  9. Blm nonton....
    Baca reviewnya malah bikin mewek ih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya ji, mingseg mingseg bisa jadi hihihi

      Hapus
  10. Perang itu bikin merana. Saya blm pernah nonton anime ini

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ayo mb takrekomendasiin film ini bagus ^_^

      Hapus
  11. Blm pernah liat jugs Nit..
    Apik buat tontonan semua umur tho klo ini.. Besok kelar ujian mid nya raka..tak nggolek film2 brnilai moral kayak gini nit..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aseeeg, biar abis ujian bisa refresh pikirannya ya mb hihihi

      Hapus
  12. Sudah pernah nonton,, dan untuk nonton kedua kalinya kyknya gak sanggup..
    Dulu nonton nya sambil nangis bombay,, gara2 liat perjuangan sang kakak untuk merawat adik kecilnya..trs adik kecilnya akhirnya meninggal, huuuuahhhh.. gak sanggup krn tiba2 jadi ingat sama adik kecil ku juga T_T

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih uda mampir blog aku
      Iya bener bener mengharukan.
      Ga kebayang jadi mereka kayak gimana,
      Dalam suasana konflik yang penuh ketidakpastian aaaaak #mewek

      ​( ˘ з ˘)/(‾̩̩̩﹏‾̩̩̩).

      Hapus
  13. Hotaru no Haka... salah satu film Ghibli yang nontonnya udahlah cukup sekali aja. Bagus sih, tapi capek di hati jadinya nggak mau nonton ulang. Hahaha.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hihi iya ya, saking sampai hatinya pesan yang disampaikan ke penonton

      Hapus
  14. Aku sudah nonton semua keluaran Ghibli selain my neighbour yamada dan princess kaguya..overall semua bagus. Tapi yg plg bagus karya pentolan2 gaek Ghibli spt Hayao Miyazaki dan Isao Takahata. Dari semua Grave of Fireflies memang yg plg realistis dan paling sedih

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aku suka bagian kata kata, dari semua, Grave of Fireflies memang yang paling realistis hihi
      Aku pengen nonton yang arrierty ama wind rises abis ini, klo yang princess kaguya metode gambarnya dibikin kayak sketsa gitu ya

      Hapus
  15. Aku bakalan sedih banget nonton film ini. Aku nggak mauu :p. KUatir baper

    BalasHapus
  16. sudah kuduga ini ghibli lagi bahahha
    gambarnya khas ya nit
    dikau kayaknya demen bingit ghibli dan aku beluman nonton samsek

    BalasHapus
  17. Kayaknya kalo mampir ke blog ini, gua mesti siap disuguhin rekomendasi kece ala Nita hehe. Udah ditonton Nit barusan, dan sanggup mengoyak-ngoyak emosi. Nontonnya juga pas malem begini, jadi berasa sendu. Meski masih menata emosi sedih abis nonton, at least gua dapet "makanan" berkualitas buat mood. Pesannya dapet banget, dan terasa sangat nyata.

    Gua sendiri punya adik perempuan, dan ngerasa "kesentuh" banget sama peran Seita. Seriously, it's so relate to my life. Entah apakah gua bisa setegar Seita jika nantinya hal buruk terjadi ama adik sendiri. Film yang mengusung drama keluarga biasanya selalu bikin perasaan gua campur aduk :p

    Duh, dengan durasi yang "cuma" 89 menit, gua berasa cepet nontonnya, ditambah emang tone film ini yang dibuat sedemikian rupa untuk menyayat emosi penonton, jadilah serasa sedih pas tahu udah nyampe ending. Naskahnya disusun dengan rapi, bikin yang nonton merasa peduli ama tiap karakter, bahkan gua sampe ikutan kesel ngelihat kelakukan si bibi, meski gua sadar ada alasan di baliknya. Ghibli is the best, no doubt about it!

    Film "Grave of Fireflies" ini oke banget ngegambarin sisi kelam perang. Dan gua setuju sama kalimat ini Nit: "Film ini menggambarkan banyak hal. Apa itu arti melindungi, menyayangi, mendewasakan diri, dan bertahan hidup."

    Makasih reviewnya ya :D

    BalasHapus
  18. Ini blog baru apa gimana, Nit? Boleh reques sinopsisnya nggak? hihihi

    BalasHapus
  19. Mentalku cemen mba, baru baca review udah nangis bombay T.T
    Ghibli mah te-o-pe be-ge-te bikin yang beginian. Hiks.

    BalasHapus