Senin, 05 Desember 2016

Review Spirited Away (2001)



Menonton film ini, tak ubahnya mengorek masa lalu yang tak lepas begitu saja dari ingatan. Ya masa dimana kekayaan imaji anak-anak berputar memenuhi otak. Saat-saat dimana alam liar kami sebagai anak-anak membawa kami kepada keajaiban-keajaiban cerita yang tercurah lewat dongeng-dongeng fantasi. Pun demikian saat menonton ulang Spirited Away karya Mangaka kenamaan Hayao Miyazaki, rasanya menonton dengan penuh kepolosan seperti ini adalah bentuk kenikmatan tersendiri dari kegiatan menonton film. Sekali lagi, karya Miyazaki mana coba yang nggak sukses membius penontonnya? Rasanya hampir semuanya bahkan bersifat masterpiece bukan?

Mungkin sinopsis berikut akan sangat spoiler karena jujur untuk cerita yang sangat aku sukai, aku merasa lebih senang menulisnya lengkap. Terasa plong saja bagiku untuk mengulasnya demikian, selain untuk mengingat-ingat saat akan menonton lagi, juga membuktikan bahwa aku memang salah satu pecinta garis keras karya-karya Godfather Animasi, Hayao Miyazaki.


Spirited Away (2001)

Tanggal Rilis : 20 Juli 2001 (Jepang) 
Sutradara : Hayao Miyazaki
Lagu Unggulan : Always With Me
Dubber (Jepang) : Rumi Hiiyagi, Miyu Irino, Ryonosuke Kamiki, Marie Natsuki

Suatu hari, Chihiro, Ayah, dan Ibunya sedang berada dalam perjalanan ke rumah baru mereka yang berada jauh dari pusat kota. Chihiro merasa malas karena ia harus pindah sekolah sehingga sepanjang perjalanan mukanya ditekuk beberapa kali lipat. Akibat sikapnya yang ogah-ogahan itu, buket bunga yang diberikan temannya Risa saat perpisahan kelas pun menjadi ringsek. Chihiro mengadu kepada Ibunya, namun yang didapatnya justru omelan. Ibu bilang agar ia bersemangatlah sedikit karena ini merupakan hari baru mereka, dan mengenai bunga itu seharusnya ia segera memberinya sedikit air sehingga bisa segar kembali setelahnya sampai rumah. Sementara itu, Ayah terus menyetir dan mendapati perbukitan yang di atasnya berdiri rumah yang akan mereka tempati. Ya, dari tempat mobil mereka berpijak, rumah tersebut kini sudah tampak meski untuk mencapainya harus melalui jalanan yang menembus hutan. Spekulasi Ayah mengatakan demikian, bahwa jalan satu-satunya untuk mencapai bukit itu adalah jalanan ini. Oleh karenanya mobil terus melaju kencang diantara pepohonan yang rimbun dan puing-puing bangunan berbentuk rumah-rumah kecil yang teronggok di sudut jalan. Kata Ibu, rumah-rumah itu merupakan sisa-sisa bangunan kuil, tempat dimana orang biasanya berdoa. 

Mobil yang tadinya melaju kencang tiba-tiba direm mendadak karena di hadapannya kini menjulang bangunan tua yang di depannya terdapat terowongan. Ayah penasaran lalu turun, begitu pula dengan Ibu. Ayah memeriksa bangunan itu lalu tertarik untuk memasukinya lebih dalam. Melihat kesembronoan orang tuanya, Chihiro merasa tindakan tersebut salah. Ia mencegah Ayah dan Ibunya masuk, namun tetap saja kalah, karena tak tahan ketika memperhatikan kemagisan patung penunggu yang berada di depan terowongan. Chihiro pun mau tak mau berlari mengikuti Ayah dan Ibunya untuk menjelajahi terowongan. 

Bangunan itu sungguh aneh. Selain plaster dindingnya sudah banyak yang mengelupas, di dalamnya juga terdapat bangku dan kursi-kursi lain seperti layaknya kapel atau mungkin stasiun. Lalu sayup-sayup, Ibu dan Chihiro mendengar bunyi kereta lewat dan berkesimpulan bahwa mungkin tempat ini berdekatan dengan rel kereta. Oleh karenanya, mereka terus melaju hingga mentok sampai ke penghujung pintu.
 

Ajaib ! Sesampainya di ujung pintu, yang mereka dapati justru padang rumput yang begitu hijaunya lengkap dengan hembusan angin yang membelai wajah. Ayah kemudian mengira-ira bahwa mungkin bangunan ini adalah salah satu dari taman hiburan yang dibuat pemerintah, karena pada awal tahun 90-an banyak didirikan bangunan jenis ini namun terpaksa tutup karena krisis keuangan. Lalu Ia mengajak Ibu dan putrinya untuk menjelajah lebih jauh lagi ke depan. Chihiro berfirasat tidak enak mengingat angin tiba-tiba berhembus cukup kencang sehingga menerbangkan dedauan yang ada di situ. Ia merasa bahwa bangunan itu seperti sedang mengeluarkan suara rintihan. Ibu pun menenangkan Cihiro dan mengajaknya supaya turut serta membelakangi Ayah. Kini, mereka berjalan lurus ke depan, melewati sungai, bahkan sampai pada sebuah kota kecil yang di dalamnya terdapat banyak kedai makanan yang menguarkan aroma lezat. Anehnya, tak ada satupun orang yang muncul sehingga bisa menjelaskan sedang berada dimanakah mereka sekarang ?


Ayah kemudian berlari dan menemukan sumber makanan yang dimaksud. Di sana ia sudah mendapati piring-piring besar yang berisi lauk-pauk makanan, mulai dari ikan-ikanan, ayam, babi, dsb. Ayah berteriak kegirangan dan mengajak Ibu dan Chihiro untuk ikut mencobanya. Ibu segera datang dan mengambil posisi, sementara Chihiro malah bertambah was-was. Chihiro memperingatkan orang tuanya agar jangan langsung main ambil karena jika sampai pemiliknya datang, maka tamatlah riwayat mereka. Namun, tampaknya kedua orang tuanya cukup cuek dan malah mengambil lauk dalam jumlah banyak tanpa mempertimbangkan peringatan putrinya. Ibu bilang, nanti kalau pemiliknya datang, sudah tentu akan mereka bayar. Namun karena saking gemasnya dengan kesembronoan orang tuanya, akhirnya Chihiro malah berjalan ke arah lain, siapa tahu ia bisa bertemu dengan salah satu penduduk dari kota misterius itu. 



Chihiro berjalan lurus, sampai di depannya terdapat bangunan yang menyerupai pemandian air panas. Cerobong asap bangunan itu sudah mengepul, sementara di bagian lain terdapat gerojokan air yang terus mengalir. Ia melewati jembatan yang menghubungkan kedai-kedai tadi dengan pemandian air panas itu lalu melongok ke kolongnya. Di sana ia melihat rel kereta yang dibangun di atas jurang nun jauh di bawah sana dengan kabut yang menyelimuti. Kebetulan saat itu kereta sedang melintas sehingga ia penasaran dan mengikutinya dari arah lain. Saat kereta sudah menghilang, iapun menengok dan menyadari bahwa dirinya kini sedang diperhatikan oleh seorang anak lelaki berbaju kimono. Aha ! Akhirnya ada juga manusia yang lewat meski perangainya lumayan aneh karena tiba-tiba menghardik Chihiro supaya jangan sampai masuk ke area ini. Dikatakannya dengan suara keras, bahwa Chihiro harus segera pergi melewati sungai sebelum matahari terbenam. Belum juga mendapatkan penjelasan yang pasti mengapa ia harus menuruti perkataan anak laki-laki itu, hari mendadak mulai gelap. Lampu-lampu kedai mulai dinyalakan, dan saat itu juga si anak laki-laki tadi kembali dengan keras mengusir Chihiro dari tempat itu.

Chihiro pun berlari memanggil-manggil orang tuanya supaya lekas pergi dari sini. Namun yang didapatinya justru pemandangan yang semakin menakutkan. Di kanan-kiri jalan, penduduk kota mulai menampakkan wujud aslinya masing-masing yang semuanya adalah hantu. Yang lebih menakutkan lagi adalah orang tuanya yang tengah asyik menyantap makanan sedari siang kini tiba-tiba berubah menjadi babi, dengan mulut rakus yang tak pernah berhenti mengunyah makanan. Chihiro ketakutan setengah mati, ia menangis sambil terus-menerus memanggil orang tuanya. Sampai akhirnya ingin menyeberang sungai yang tadi ia lewati, malahan sungai tersebut kini berubah menjadi lautan yang di ujungnya muncul sebuah kapal dengan lampu kelap-kelip dan musik tradisional Jepang. Dalam hati Chihiro bertanya, kapal apakah itu?



Chihiro semakin kaget karena ketika kapal menepi, yang keluar dari pintu-pintu selanjutnya adalah hantu-hantu berkimono khas bangsawan yang berjalan ke arah pemandian air panas. Chihiro pun mencoba meyakinkan dirinya bahwa pasti ini hanya mimpi sehingga ia harus bangun. Ia juga meracau bahwa mahluk-mahluk aneh yang dilihatnya barusan diharapkannya agar segera hilang. Namun yang terjadi malah sebaliknya, justru badannya lah yang akhirnya menjadi transparan. Di tengah ketakutannya itu, anak laki-laki yang ia temui di jembatan tadi muncul. Ia menghibur Chihiro supaya jangan menangis dan memberikannya sebuah pil agar badan Chihiro kembali seperti semula. Dan dikatakannya bahwa orang tuanya saat ini telah disihir menjadi babi karena telah bersikap lancang di dunia Yubaba. Ya, dunia Yubaba = dunia roh, dimana pada siang hari terlihat seperti kota mati, namun pada malam hari menjadi hidup karena hantu-hantu memang munculnya di malam hari. Pikiran Chihiro semakin kacau. Siapa itu Yubaba. Apa yang harus ia lakukan untuk kedua orang tuanya? Haku (demikian anak laki-laki tersebut memperkenalkan diri), mencoba menenangkan anak perempuan itu. Ia berjanji akan mencoba mencarikan jalan keluar sekaligus memberikan mantra pada kedua kaki Chihiro supaya lekas bisa jalan lagi seperti semula. 

Karena bau manusia di dunia roh sangat busuk, maka Haku berpesan supaya Chihiro menahan nafas lekat-lekat agar tidak diketahui keberadaannya sebagai manusia. Iapun berjalan mengikuti Haku dan hantu-hantu lain untuk menuju ke tempat Yubaba dengan melewati pelayan yang berbentuk katak. Saat seekor katak kecil meloncat di hadapan  mereka, Chihiro pun kaget. Ia lupa menutup hidungnya sehingga akhirnya ketahuan bahwa dirinya adalah manusia. Seluruh penghuni pemandianpun gempar. Haku membawa lari Chihiro agar bersembunyi di taman belakang. Ia kemudian memberikan arahan supaya Chihiro tidak disihir menjadi babi, maka Chihiro harus meminta pekerjaan kepada Yubaba. Caranya, Chihiro harus melewati tangga yang berada di belakang pemandian, sampai kemudian terhubung ke pintu ketel uap, dimana Kamaji bertugas. Ia bisa meminta tolong terlebih dahulu pada Kamaji supaya nantinya bisa dihubungkan dengan Yubaba.

Chihiro pun menuruti apa kata Haku. Ia menuruni tangga yang di bawahnya menganga jurang dan rel kereta api yang cukup curam. Dengan kekuatan sihir Haku, kakinya yang semula gemetaran menapaki tangga, kini bisa menyesuaikan diri dengan cepat bahkan cenderung ngebut hingga akhirnya menemukan pintu ketel uap yang dimaksud. Di sanalah ia bertemu dengan hantu laba-laba tua bernama Kamaji yang sedang menjalankan tugasnya mengisi bahan bakar pemandian. Kamaji yang bertampang seram ini terlihat begitu rajin dengan bantuan anak buah hantu jelaga yang bertugas mengangkati batu-bara untuk dicemplungkan ke perapian.

Satu dua kali Chihiro meminta pekerjaan, Kamaji mengacuhkannya. Bahkan dibilangnya bahwa ia sedang tidak butuh pekerja tambahan karena jumlah hantu jelaga yang membantunya cukup banyak. Namun, ketika satu hantu jelaga tertimbun batu bara dan dibantu Chihiro untuk mengangkatnya, hantu yang lainnya ikutan caper sehingga semuanya malah berpura-pura tertimpa batu bara supaya pekerjaannya dilimpahkan ke Chihiro. Melihat hal itu, Kamaji marah besar. Ia mengancam jika hantu jelaganya malas, maka kembali saja ke bentuk asalnya sebagai jelaga. Chihiro juga tak luput dari nasehatnya. Ia meminta supaya Chihiro juga  jangan mengambil pekerjaan orang lain.



Jam makan siang pun tiba. Salah satu pelayan pemandian yang bernama Rin turun ke bawah untuk membawakan makanan pada Kamaji dan hantu jelaga. Saat itulah dilihatnya Chihiro dan iapun berteriak kencang bahwa manusia di sini tidak akan selamat jika diketahui keberadaannya oleh Yubaba. Namun, saat disinisin oleh Rin, Kamaji membela Chihiro dengan mengatakan bahwa Chihiro adalah cucunya. Ia memerintahkan Rin untuk membawa Chihiro menghadap Yubaba. Rin yang semula akan menolak, kini tak bisa berkutik berkat disogoknya ia dengan seekor bangkai kadal bakar kesukaannya. Rin pun akhirnya membawa Chihiro menuju ke ruangan Yubaba. Untuk menuju ke sana, mereka harus melalui lift dimana sepanjang jalan harus berpapasan dengan hantu lain yang beraneka ragam bentuk maupun sifat. Saat menuju lift pertama, Rin dan Chihiro bertemu dengan hantu putih gemuk yang terus mengikuti kemanapun mereka pergi. Juga pelayan katak yang selintasan mencium bau busuk manusia. Untuk meyelamatkan Chihiro, Rin membiarkan gadis kecil itu jalan sendiri ke arah lift dengan ditemani hantu putih besar tadi. Pelayan katak masih penasaran dengan bau busuk itu dan mencoba menginterogasi Rin. Namun dengan cerdik Rin langsung mengatakan bahwa bau tersebut berasal dari bangkai kadal bakar pemberian Kamaji.

Sesampainya di lantai atas, hantu putih besar itu bukannya mencelakai Chihiro malahan membantunya supaya tidak diketahui hantu lain. Ia juga dengan sopan mempersilakan Chihiro keluar lift dan mencari ruangan yang dimaksud. Ruangan Yubaba sendiri rupanya dilapisi beragam pintu yang mana langsung terbuka dan menyeret Chihiro supaya lekas tiba di hadapan sang empunya ruangan. Begitu sampai ke dalam, di sana sudah duduk sesosok nenek tua berbaju biru dengan hidung betet dan suara serak. Rambutnya kelabu disanggul lebar dengan jari-jemari penuh cincin berlian yang sangat mencolok. 

Saat mendapati Chihiro sukses memasuki ruangannya, Yubaba pun terkekeh dan salut akan keberanian anak itu. Ia yakin ada seseorang yang membantunya di belakang. Namun tak ingin berbasa-basi lebih dalam, Chihiro langsung meminta pekerjaan agar dapat membebaskan sihir babi Yubaba kepada ayah dan ibunya. Mendengar hal itu, Yubaba marah. Ia merasa ayah dan ibu Chihiro sudah lancang memakan hidangan tamu-tamunya tanpa ijin sehingga menyulapnya menjadi babi dan berniat akan menaruhnya di meja koki jika sudah semakin gemuk. Chihiro bersikeras agar Yubaba jangan sampai melakukannya dan membiarkan ia mengabdi padanya. Yubaba menolak karena ia tak butuh anak manja seperti Chihiro. Namun Chihiro terus memohon, bahkan dengan agak berteriak, sehingga bayi yang ada di kamar Yubaba pun menangis. Bayi tersebut sampai menendang dan membuat rambut Yubaba berantakan. Sehingga untuk menenangkannya, maka diiyakanlah permohonan Chihiro dengan syarat ia harus menyerahkan sebagian namanya supaya nantinya bisa ia kendalikan sesuka hati dengan mantra sihir. Jadilah ia buang beberapa huruf kanji dari nama lengkap Chihiro menjadi Sen. Ya nama Chihiro kini berubah menjadi Sen. Sen lalu dibimbing Haku agar selanjutnya diajak berbaur dengan pekerja yang lain. Saat itulah, Sen ingin mengucapkan terima kasih pada Haku, namun Haku berubah menjadi dingin. Ia bilang, panggil aku Tuan Haku.



Sen lalu diserahkan pada Rin untuk dibriefing apa saja tugasnya kemudian. Ia juga diarahkan untuk sekamar dengan seniornya itu yang tadinya ia kira judes namun ternyata baik hati dan antusias dengan kecerdasan Sen dalam merayu Yubaba. Sayang, Sen sedang dalam keadaan muram. Ia bertanya, apa di sini ada 2 Haku? Lalu Rin bilang, Haku itu ya cuma 1. Dia adalah murid Yubaba yang sangat tunduk dan mau melakukan apapun yang diperintahkan tuannya itu. Sen dihimbau jangan terlalu dekat dengan Haku, karena sifatnya yang tegas sebagai tangan kanan Yubaba. Ia lalu mengajak Sen untuk tidur dan berganti pakaian mengingat hari sudah mendekati pagi. Sesampainya di kamar dipilihkannya baju yang cocok untuk tubuh kecil Sen dan dibiarkannya ia beristirahat untuk memulai kerja esok harinya (meski di balik selimut ternyata Sen malah menangis dalam gelap karena mendapati sikap Haku yang berubah). 

Pagi harinya, Haku mengendap-endap ke kamar Sen dan membisikkan sesuatu pada gadis itu, jika ingin mengetahui keberadaan orang tuanya, maka ia harus mengikuti petunjuknya untuk sampai ke kandang babi. Sen pun bangun dan mengenakan pakaiannya. Ia pergi melewati ruangan ketel uap, dimana semuanya sedang terlelap. Saat hendak mengenakan sepatunya, ia mendapati hantu jelaga sudah menyimpankan sepatunya itu dan mempersilakan Sen untuk memakainya. Sen lalu melambaikan tangan dan keluar sebentar untuk menemui Haku dan juga orang tuanya.



Ternyata sikap Haku yang tadi malam hanya sebatas sandiwara supaya tidak terendus oleh Yubaba bahwa ia tetap berniat membantu Sen. Jadi anak laki-laki ini tetap baik pada Sen dan mau menunjukkan keadaan orang tuanya sekarang. Melewati kebun bunga dan kebun kubis yang sangat indah, akhirnya keduanya sampai di tempat yang dimaksud. Di sana, ratusan babi bercengkrama saling menguik satu sama lain. Dua diantaranya adalah orang tua Sen walaupun ia belum bisa mengenali yang mana babi jelmaan ayah ibunya. Sen hanya bisa menangis dan berpesan supaya mereka tidak lebih menjadi gemuk jika tidak ingin berakhir di meja dapur. Setelah menjenguk kedua orang tuanya, Sen masih terisak-isak. Ia sangat sedih dan bingung bagaimana caranya membebaskan kutukan sihir orang tuanya. Haku yang pengertian lantas menenangkan temannya ini dan memberinya nasi kepal karena Sen pasti belum makan sedari malam. Sen melahapnya sambil menangis dan mencurahkan kesedihannya sampai lega.

Malam hari, pekerjaan pun dimulai. Atas bimbingan Rin, Sen pun diarahkan untuk melayani tamu pertamanya (yang paling mengerikan) yakni hantu lumpur yang ternyata adalah roh sungai sakti mandraguna. Karena keadaannya yang tersumbat benda-benda rongsok, roh sungai ini  akhirnya tidak dapat dikenali lagi. Semula Yubaba mengira ia adalah roh jahat, namun karena sudah memasuki gerbang pemandian, maka tak enak rasanya jika harus menolaknya sebagai pelanggan. Akhirnya tugas itu pun dilimpahkannya ke Sen. Tak disangka, karena ketulusannya dalam bekerja (juga berkat bantuan Hantu No Face yang sangat menyukai Sen sehingga mau mengambilkan banyak herbal kepadanya), maka penampilan roh sungai pun kembali bersih setelah dimandikan olehnya. Dan dari situ, Sen pun dianggap menguntungkan pemandian sehingga membuat Yubaba girang. Apalagi setelahnya, muncul bongkah-bongkah emas dari sisa lumpur yang ada sehingga Sen akhirnya dinobatkan sebagai pembawa keberuntungan. Roh sungai juga memberi Sen hadiah obat herbal karena sudah mau melayaninya dengan baik.



Suatu pagi seekor pelayan katak mengendap-endap ke bak yang digunakan roh sungai kemarin untuk mencari emas. Saat sedang mengorek sudut lantai, tak sengaja emas berjatuhan yang ternyata berasal dari Hantu No Face. Katak pun tergiur dengan iming-iming itu, namun akhirnya malah ditelan oleh No Face. Begitu pula pelayan katak yang lainnya yang kebetulan lewat situ. Para penghuni pemandian tiba-tiba heboh karena No Face tiba-tiba muncul dan terus mengiming-imingi emas. Pelayan katak dan pelayan wanita akhirnya berbondong-bondong memberikan makanan terlezat supaya diberi emas. Sayangnya, yang No Face inginkan sebenarnya adalah Sen. Dan Sen ternyata menolaknya sehingga membuat ia terluka. Iapun membabi buta dan menelan pelayan katak yang ada hingga berubah menjadi brutal.

Di tempat lain, ketika Sen memandang lautan, tiba-tiba naga jelmaan Haku melintas namun dengan gerakan yang cukup aneh. Naga tersebut berputar-putar, kadang juga terbang tak tentu arah dan menjatuhkan diri ke laut. Saat membuka jendela lebih lebar, naga tersebut menerobos masuk yang ternyata dibelakangnya terdapat ribuan burung kertas sihir yang mengejar. Ribuan burung kertas tersebut rupanya digunakan Zeniba (saudara kembar Yubaba) untuk menghukum Haku yang telah mencuri segelnya. Sen pun melihat sekujur tubuh Haku dipenuhi luka dan darah. Ia mencoba membantu, dengan cara menutup pintu supaya burung kertas itu tidak bisa mengejar lagi. Namun Haku malah terbang menuju ruangah Yubaba. Sen ingin menolong Haku sehingga ia nekad melewati pipa, tangga, dan juga jendela ruangan Yubaba supaya tidak ketahuan. Tak disangka, ada satu burung kertas lagi yang masih hidup mantranya dan mengikuti Sen ke ruangan Yubaba.


Di tempat Yubaba, Sen menyusup ke kamar bayi yang selalu menjadi kesayangan penyihir tua itu dengan niat mencari cara agar Haku terlepas dari sihir burung kertas. Saat melihat-lihat ruangan, Yubaba tiba-tiba masuk untuk mengecek apakah bayinya masih aman tidur di tumpukan bantal atau tidak, sehingga membuat Sen ikut bersembunyi. Setelah memastikan bayinya baik-baik saja, Yubaba patroli lagi keluar pemandian. Namun sial, Sen malah tertangkap bayi Yubaba yang ternyata badannya sangat besar seperti raksasa. Ia mengatai Sen sebagai biang penyakit dan mengancamnya akan mengadukannya pada Yubaba. Sen sendiri melihat bayi besar tersebut kasihan karena seperti terkurung sehingga gampang  sakit-sakitan. Sen bilang Big Baby (begitu Bayi tersebut dinamai) kurang mengenal dunia luar sehingga gampang dihinggapi penyakit. Namun Big Baby malah tidak peduli dan mengancam Sen untuk mengajaknya bermain kalau tidak ia akan menangis keras. Sen kabur ke depan dan menghadapi Haku hendak dicemplungkan ke lubang perapian oleh anak buah Yubaba, 3 kepala. Sen berhasil menahannya. Dan saat itu juga burung kertas berubah menjadi bayangan Zeniba dan menjelaskan kenapa Haku bisa jadi seperti ini. Haku telah mencuri segelnya demi menjalankan tugas dari Yubaba, sehingga ia harus dihukum mati. Begitu juga Big Baby yang akhirnya disihir menjadi tikus, asisten  Yubaba disihir menjadi lalat, dan 3 kepala disihir menjadi Big Baby untuk mengecoh Yubaba. Sementara Haku masih tetap dibiarkan penderitaannya setelah menelan segel bermantra itu. Tak ingin naga kesayangannya mati, Sen pun memeluk erat naga tersebut hingga jatuh bersamaan dengan tikus jelmaan Big Baby dan juga lalat. Mereka mendarat di ruang ketel uap milik Kamaji.


Kamaji dengan telaten membantu Sen yang tengah kerepotan mengendalikan Haku yang terkena mantra sihir dari segel Zeniba. Pelan-pelan ditidurkannya Haku, lalu dijejalkannya separuh obat herbal dari roh sungai agar penyakit Haku bisa keluar. Setelah dipaksa menelan obat herbal, perlahan-lahan Haku berubah menjadi manusia, namun kondisinya masih belum stabil. Hanya segel dan mantra jahatnya saja yang keluar dari dalam tubuh Haku sehingga cepat-cepat Kamaji memerintahkan Sen agar segera menghancurkannya. Dengan sigap, Sen pun menginjak mantra itu dengan kakinya sehingga mantranya benar-benar lenyap. 

Untuk menuntaskan semua permasalahan ini, ia harus meminta maaf kepada Zeniba karena Haku telah mencuri segelnya. Iapun bertanya pada Kamaji dimana alamat Zeniba. Kamaji berpikir sejenak lalu teringat bahwa kediaman Zeniba sangat sulit untuk dijangkau. Namanya Dasar Rawa, dicapai setelah 6 stasiun dilewati jika menggunakan kereta yang melintas laut. Tanpa pikir panjang Sen menyanggupinya.

Saat ingin bergegas menuju ke stasiun, di ruangan lain, Sen mendengar Yubaba sedang membujuk No Face dan berjanji segera mendatangkan Sen untuknya. Sen pun datang. Namun ia masih tetap menolak emas-emas No Face. Ia hanya ingin No Face memakan sisa obat herbal yang ada sehingga semua sifat jahatnya keluar. Benar saja, setelah menelan obat herbal itu, No Face memuntahkan seluruh isi perutnya termasuk pelayan katak dan yang lainnya. Sikapnyapun kembali normal, dan malah diajak Sen jalan-jalan ke tempat Zeniba, bersama dengan lalat dan juga tikus jelmaan Big Baby yang tadinya tidak dikenali oleh ibunya sendiri.

Setelah menyeberangi laut dengan diantarkan Rin sampai ke stasiun, Sen pun bersiap menuju kereta yang akan mengantarkannya ke Dasar Rawa. Ia duduk berbarengan dengan penumpang hantu lain yang turun dengan tujuan yang berbeda-beda. Ia, No Face, tikus Big Baby, dan juga lalat menyelami pikirannya masing-masing karena suasana begitu hening. Saat tiba di tujuan, mereka harus melewati jalnan hutan yang cukup gelap sehingga keadaan menjadi sangat menegangkan. Beruntung, dari kejauhan tiba-tiba ada cahaya yang mendekat dan ternyata adalah lampu suruhan Zeniba yang ditugaskan untuk menjemput tamu agungnya.


Tiba di rumah Zeniba, ternyata apa yang dibayangkan sebelumnya sangat berbeda dengan aslinya. Zeniba adalah nenek yang sangat baik hati dan penuh kasih sayang, sangat berbeda dengan Yubaba. Bahkan dia mengijinkan Sen memanggilnya nenek. Sementara tikus Big Baby dan lalat dibiarkan membantunya memintal benang supaya latihan bergerak dan juga bermain karena selama ini terlalu dimanjakan Yubaba. Zeniba juga menghidangkan kue dan teh hangat kepada tamunya itu sambil mendengarkan cerita Sen yang bermaksud meminta maaf karena ulah Haku. Zeniba memakluminya dan bahkan kaget Sen berhasil menghancurkan mantranya, karena sebenarnya mantra tersebut hanya bisa hancur oleh cinta. Sen juga bercerita bahwa nama aslinya adalah Chihiro yang menurut Zeniba sangat indah, berbeda dari pernyataan saudari kembarnya yang mengatakan bahwa nama tersebut sangat berlebihan.

Sementara itu, Haku sudah sembuh seratus persen dan menghadap Yubaba. Ia memohon agar membebaskan Sen dan orang tuanya supaya bisa kembali ke dunia manusia. Awalnya Yubaba menolaknya mentah-mentah, namun karena Haku menyadarkan Yubaba bahwa saat ini ada sesuatu yang sangat berharga darinya yang telah hilang, Yubaba pun berpikir keras. Akhirnya Yubaba memperhatikan emas-emas dari No Face. Semuanya berubah menjadi lumpur. Dan bertambah kagetlah ia, karena Big Baby yang selama ini ia perhatikan sedang asyik memakan makanan di depannya ternyata adalah jelmaan 3 kepala yang diubah Zeniba. Yubaba marah besar dan menuding Big Baby dibawa kabur Sen. Haku lalu bercerita bahwa bayinya itu kini sedang jalan-jalan ke tempat Zeniba untuk mengembalikan segel. Maka dari itu, Haku memberikan alternatif lain, jika ingin Big Baby kembali, ia harus menyerahkan Sen dan orang tuanya kembali ke dunia manusia. Yubaba sepakat, namun tetap saja ia masih mengatur cara licik dengan mempersulit permintaan itu.


Haku pun menjemput Sen ke tempat Zeniba. Di sana ia meminta maaf pada nenek tua itu dan meminta ijin untuk membawa pulang Sen dan Big Baby. Zeniba tentu saja mengijinkan, namun No Face dimintanya untuk tetap tinggal menemani hari tuanya. Sen kemudian diajak terbang, bersamaan pula dengan tikus Big Baby dan juga lalat asistennya. Nah, saat terbang itu, tiba-tiba Sen teringat sesuatu. Ternyata sejak kecil ia memang sudah lama mengenal Haku. Yakni saat ia terjatuh ke sungai karena mengejar sepatunya yang hanyut. Ibu bilang bahwa sungai tersebut bernama Kohaku, yang lantas saat itu juga mengingatkan Haku akan namanya sendiri. Iapun berubah jadi manusia kembali dan terharu karena ingatannya telah pulih setelah sebagian namanya dihilangkan oleh Yubaba agar mau menjadi budaknya. Chihiro dan Hakupun berpegangan tangan meluapkan rasa haru dalam hati.

Esok paginya, Yubaba sudah menyiapkan kumpulan babi untuk ditebak mana yang merupakan orang tua Chihiro. Big Baby yang telah kembali ke asalnya lantas pulang dengan keadaan sudah bisa berdiri. Yubaba kaget dan bertanya kenapa bayinya bisa mengalami kemajuan pesat. Big Baby pun bersemangat menceritakan pengalamannya bersama Chihiro semalam. Ia juga memarahi Yubaba kalau masih bersikap pelit pada Chihiro padahal gadis itu sudah begitu baik menemaninya jalan-jalan. Yubaba mengkeret mendengar pernyataan anaknya itu tapi ia tetap berkilah bahwa peraturan tetaplah peraturan. Tidak ingin berlama-lama dalam perdebatan, akhirnya Chihiro menyanggupi. Iapun mengamati babi yang ada dan berani menjamin bahwa kedua orang tuanya tidak termasuk dalam kumpulan babi itu. Seluruh pegawai pun bersorak karena tebakannya benar. Chihiro pun dari jeratan Yubaba.

Dengan diantarkan Haku sampai ke padang rumput, Chihiro dipesani bahwa orang tuanya sudah berada di depan duluan. Dari situ, ia tidak boleh menengok lagi ke belakang dan harus berjalan lurus ke depan. Tadinya Chihiro masih kurang puas karena cemas dengan nasib Haku setelahnya, namun karena Haku bilang sudah mengundurkan diri dari tempat Yubaba dan akan kembali ke dunianya, Chihiro pun tenang. Ia berharap akan bertemu dengan Haku suatu hari nanti.


Nah, akhirnya memang keseluruhan cerita aku jabarkan bukan? Dan yah, terasa lega, hihihi. Aku sendiri punya point-point penting dari beberapa bagian film yang mengambil porsi paling banyak menyita perhatianku. Pertama, jelas aku terhipnotis akan goresan tangan  Miyazaki yang begitu warna-warninya sehingga terasa seperti dibawa betulan ke alam lain dimana setting cerita ini dibuat. Ketegangannya, kesenyapannya, kemisteriusannya, terutama saat adegan mobil berhenti di depan bangunan tua dengan aneka patung khas zaman edo yang menjaga gerbangnya. Didampingi iringan musik yang menyayat hati, jelas ketegangan yang dibangun pada awal cerita sudah dimulai sehingga membuatku bertambah penasaran meski dengan mimik penuh kengerian. Apalagi saat memasuki kedai-kedai tak bertuan yang ada di kota mati, entah perasaan seperti apa yang timbul jika aku menjadi Chihiro betulan. 

Kedua, aku juga terintimidasi dengan beberapa karaker unik yang ada dalam cerita. Yubaba? Sudah jelas iya. Karena antagonis memang selalu menjadi perhatian central dari emosi penonton. Namun, untuk versi dubbernya, ketika membandingkan antara yang dibahasakan dengan bahasa ibunya--Jepang dengan yang sudah dibahasaInggriskan, jujur aku lebih suka yang Inggris. Terasa lebih mantab dan menjiwai secara artikulasi. Kemudian tokoh Kamaji dan Rin juga turut menarik perhatianku, karena awalnya terkesan jutek namun berjalan ke belakang malah kelihatan sifat aslinya yang baik hati dan juga mengayomi sekali. Sehingga dari sini aku banyak belajar, bahwa semakin dewasa sifat seseorang, maka semakin bijaklah ia. Adapun tokoh lainnya yang juga gampang diinget adalah pelayan katak. Meski sifatnya hanya dibuat sebagai figuran, tapi dari sisi penampilan, model karakter ini berhasil membangun image yang kuat untuk setting pemandian hantu ala Yubaba.

Terakhir, mungkin dari segi background musik yang mengiringi ya. Bisa diamati, bahwa hampir di banyak scene, musik yang disetel cenderung magis ( i don't know why?).  Mungkin karena iramanya pelan juga membangkitkan kesedihan tersendiri yang susah diterjemahkan apa maknanya sehingga sangat pas menggambarkan kasih sayang seorang anak kepada orang tuanya hingga mau melakukan apapun asal orang tuanya selamat. Ditulis oleh Gustyanita Pratiwi.

Hmmm...kupikir sampai di sini dulu reviewnya. Pokoknya terus terang lega, setelah namatin Spirited Away dan My Neighbor Totoro yang kemarin aku ulas. Tinggal masih penasaran nih sama karya Miyazaki yang lain seperti yang sudah direview oleh Mbak Arinta di Grave of Fireflies

Source Pict : Spirited Away Movie, Hayao Miyazaki, Ghibli Studio





32 komentar:

  1. Tanteee... Eiya katanyaaa, ada spirited away ke 2 ya? Bener ngga sih? Kalo beneran ada aku penasaran bgt sama kelanjutan hubungan Haku dan Chihiro.

    Betewe kita beda..hiks.. Aku lebih suka versi Jepangnya drpd yg berbahasa inggris.

    BalasHapus
    Balasan
    1. haaa??? masa tembul baru tau mb rin? emang iya tah mau ada episode 2-nya?

      Kalo iya mau banget aku nonton ahahhaa
      kalo yang jepang, Yubabanya kurang nampol hihi

      Hapus
  2. ini adalah review atau tepatnya RECAP di film Spirited Away yg entah kesekian kali aku baca dari berbagai blog :) Film lama tapi tetap gak bikin bosen utk ditonton ya dek

    BalasHapus
    Balasan
    1. hihi iya mb ri, soalnya ga ngebosenin walo diulang mpe ratusan *tanggo kali ah

      Hapus
  3. Lumayan lama ya film ini. Tp aku jarang nonton anime sih jadi baru tau

    BalasHapus
  4. Ini...sinopsis panjang nian Nit... Tp jadi ngerti film diriku. Semenjak jadi mbok2.. Filmku ya film anakku..model ice age, cars, lion king *melas yo..

    BalasHapus
    Balasan
    1. lah mb,bukannya malah bagus film animasi gitu,aku kok malah suka animasi dan kartun ya ketimbang film orang dewasa ahahah
      etapi kebanyakan animasi ga cuma buat tontonan anak sih menurutku,segala usia juga bisa nonton

      Hapus
  5. Waaaah panjang banget review nya, semangat buat review selanjutnya kak ^^

    BalasHapus
  6. Eh kirain Teh Mbul udah pernah ngereview film ini. Ternyata baru sekarang. Soalnya waktu Teh Mbul bikin postingan award kemarin, kalau gak salah ada Spirited Away juga kan?

    Secara garis besar, saya setuju dengan penilaian Teh Mbul di atas. Oiya, satu hal yang saya rasain dari film-film Ghibli (termasuk film ini), yaitu sensasi menyenangkan-nya. Dilihat dari plot, film2 Ghibli memang sederhana (bahkan bisa dibilang terlalu sederhana), tapi, anehnya selalu sukses bikin aura dan sensasi menyenangkan. Berkualitas.

    BalasHapus
    Balasan
    1. memang pernah gi, jeli juga ingatanmu ~ \(´ー`)

      aku tulis lagi dengan model penceritaan ulang, soalnya yang di blog satunya buat lomba, aku mau belajar yang cara nulis review film ala2 blogger ato pengamat film beneran hihihi (‾⌣‾)♉

      iya sederhana tapi berdaya pikat magis gi ƪƪ'▿') ('▿'ʃʃ

      Hapus
  7. pernah liat wallpaper2 film ini..ternyata itu judulnya..
    kayaknya bagus buart di tonton

    BalasHapus
    Balasan
    1. bagus banget, recomended pokoknya mah cocok buat semua umur \(´▽`)/ \(´▽`)/ \(´▽`)/

      Hapus
  8. perasaan reviewnya kayaknya udah dibuat mbak di blog yang satu lagi
    etapi ga tahu saya lupa deh

    btw, baru nonton film jepang nih judulnya Tag (Riaru Onigokko), coba deh nonton juga. gila banget, serem dan plot-twist banget endingnya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya mas, aku rewrite lagi, biar blog film aku makin lengkap ceritanya aha aha aha ahaaa

      wow masa mas, aku penasaran jadinya, cuzz ah, kepoin Tagnya Riaru Onigokko ヽ(`∀´)ノ

      Hapus
  9. saya suka anime ini endingnya bagus walau ada sedihnya hehe :D

    follow yah blog ku olibutut.blogspot.co.id

    BalasHapus
    Balasan
    1. sama dong gi, saya juga demen anime, terutama yang guratan gambarnya alami gitu
      oke kaayaknya udah kufolbek deh blogmu itu

      Hapus
  10. Ngeri-ngeri sedap gimana gitu pas baca sinopsisinya. ini sih lebih ke sinopsis kali ya bukan review.
    keren kamu mbak.
    aku nggak pernah bisa nulis-nulis kayak gini, entah itu review atau sinopsis atau bahkan spoiler sekalipun.
    sebenernya aku selalu pengen ngeriview setiap film yang aku tonton dan buku yang aku baca, tapi gagal terus. hiks.

    soal filmnya, hmmm mungkin aku mau nonton aja biar lebih jelas lagi.
    tapi biasanya yang suka bertingkah sembrono itu anaknya ya, ini kenapa jadi orang tuanya? wqwq

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya put ahahhaha, hapunten aku mang blom tokcer ngulas film yang ga spoiler ahahhahah

      ayookkk review aja, aku aja ini taksempet-sempetin ngreview, sayang idenya kalo dianggurin en ga dituangkan put smangaaad
      ヽ(*´∀`)ノヾ(´^ω^)ノ♪

      nonton gieh, dijamin sukaaaa
      bener emang iya, ortunya yang sembrono

      Hapus
  11. wah kalo udah diceritain disini semua jadi gak misterius nih pengen liat nya :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. kalo gitu pantengin gambarnya aja dulu, ntar kalo dah nonton bandingkan lagi ama reviewku hehe

      Hapus
  12. Aku blm tau film ini. Seruu gitu liat film hantu. Karakternya unik

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ji, tentang hantu hantu jepang, seru nih

      Hapus
  13. pernah nonton ini dannnn.... nggak mudeng daku nyit huhu mungkin aku harus nonton ulang ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. kyaaa, padahal bagus anyiiin carik yang subtitle indo aja nyiin

      Hapus
  14. Film ini kamu tonton kapan Nit? Kok masih ingat semua ceritanya?

    Hebatnya Nita tuh, konsisten bisa nulis review sepanjang ini sampai sedetail-detailnya dan bahasanya nggak njur sembarangan akibat udah kecapekan nulis.. *salut salut :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. uda lama mb anjar, pas kuliah kalo ga salah hihi
      iya aku inget soalnya aku tonton berulang ulang, saking menghayati tokoh-tokohnya mb ~~\(´μ`。)/~~

      Hapus
  15. Aku suka sekali Spirited Away mba. Juga karya Ghibli lain...yang diatas ini nggak bosan-bosan ditonton ulang...Sdh nonton karya terbaru Ghibli belum yang When Marnie Was Here?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aaaaa kusyenang ada yang sehati denganku, #salaman
      When marnie was there uda nonton, tapi aku ngerasa serius banget temanya...percintaaan cucu dan neneknya semasa remaja hihi
      Yang laen, udsh only yesterday, grave of firefly, fron up poppy hills, arriety..hihihi

      Hapus